Sabtu, 10 Desember 2011

Jangan menangis ditoko buku


Akhir bulan saat no money no money but u

     Ini bukan tentang sebuah novel yang sangat mengharu biru , yang begitu pedih yang membuat terberai-berai air mata,hingga membuat seseorang sampai menangis ….di toko buku hanya karena membaca sinopsisnya. Bukan itu…sama sekali bukan.
     Ini hanyalah sebuah perang…batin yang terjadi dalam diri seseorang yang memiliki hasrat untuk membeli sebuah, dua buah , tiga buah buku, namun tidak punya uang. Ini hanyalah sebuah pilihan : membeli buku atau menabung untuk sebuah hal jangka panjang yang setengah mati diidam-idamkannya.
     Itu pilihan yang sulit , sulit sekali sehingga rasa-rasa ingin menangis di toko buku atau di angkot menuju rumah, atau di depan kipas angin patah yang menderu –deru.
     Kedengarannya sama sekali tidak penting, tapi itu adalah pilihan Pilihan tetaplah sebuah pilihan yang harus dipilih , terlepas dari penting atau tidaknya pilihan tersebut. Kehidupan selalu menghadirkan pilihan –pilihan yang harus dipilih. Mulai dari pilihan sederhana seperti tali sepatu biru atau hijau kah hari ini, tugas kimia organic atau kimia analitik, hot lemon tea atau cool lemon tea, ke pantai atau ke puncak, sate atau martabak mesir,film kartun atau komik. Atau pilihan-pilihan sulit yang menyangkut dengan kelangsungan hidup diatas bumi.
     Kenapa selalu ada pilihan? Kenapa kita harus memilih ? Pernahkah mendengar kehidupan bahwa hari ini adalah hasil pilihan di masa lalu, dan pilihan hari ini menentukan kehidupan dimasa yang akan datang.
     Karena hidup adalah pilihan hadapilah pilihan dengan bijaksana, karena kita tidak akan pernah bisa meralat pilihan yang telah kita buat dengan mudah.Meski pilihan tidaklah selalu menyenangkan janganlah  terlalu takut dan pengecut untuk memilih apapun.Belajarlah memilih..
Mungkin untuk hari ini tidak apa-apa menangis di toko buku……
    

Jumat, 25 November 2011

Salam pembuka

Menulis bukanlah suatu perkara mudah,butuh kemampuan untuk merangkai kata demi kata kalimat demi kalimat hingga akhirnya punya makna punya rasa.....ah tak usahlah terlalu serius

Menulis seperti menaburkan huruf-huruf ...sebagai hujan.....sebagai pasir yang ditangkap sambil bermain ah tak usahlah terlalu puitis

Maka di ruang sederhana ini saya berbagi cerita yang juga sederhana tentang saya yang manusia yang hidup di tengah-tengah manusia lainnya. 

Bukittinggi waktu dingin, 26 November 2011
Efwita Astria